Archive for the ‘Poetry’ Category
Keluargaku by Yuni Purwanti
keluarga..
ayah,ibu, anak (kakak dan adik)
keberadaan mereka adalah yang utama di dunia ini
kebahagian bersama mereka, merupakan kekuatan bagi ku
kesedihan mereka, merupakan perjuangan ku
bahagianya diri ini bersama mereka seakan-akan hanya mereka yang ku miliki di dunia ini
takut..
rasa takut itulah yang mulai menyerang ku akhir-akhir ini
tak pernah terfikir oleh ku akan kehilangan mereka
berpisah karena kebahagian,
berpisah karena kesedihan,
takut..
perasaan ini lah yang menyerang
hingga rasanya ada satu bagian tubuh ini yang terasa sakit
sakit hingga akhirnya ku berserah pada yang KUASA
bersyukur dan berserah..
dua hal tersebut yang tak pernah lepas dari do’aku kepada MU
dua hal tersebut yang selalu ingin ku ucapkan dimanapun ku berada
bersyukur karena ku hidup bersama keluarga
bersyukur atas segala kebahagian ini
berserah atas segala kesedihan yang terjadi
berserah untuk selalu menjaga keluarga ini tetap bersatu
sampai ku percaya,
bahwa kebahagian itu datang
dan kupercaya bahwa kesedihan itu pun akan datang pula seiring datangnya kebahagiaan.
PAPA – oleh Deasy Octavia
PAPA
Oleh Deasy Octavia

Saat jiwa merasa seakan hampa
bila terjebak sendiri dibalik gelap malam
Tak ada kata tuk melukiskan kerinduan
Seakan malam begitu lama berjalan
Kurindu setiap pagi bersamamu
Tak kudapat lagi pandangan itu
Hidup kini penuh dengan isak
Tatkala bayangmu mengampiri
Terasa airmata mengalir tak terbendung
Masihkah ada waktu untuk mengenangnya kembali?
Kan ku ukirkan setiap kisahmu di dalam hatiku
Papa …..
Tuesday, August 05, 2008
Sajak Sebatang Lisbong
This is a poem by WS Rendra. Read the text after you watch the video taken from youtube.
Sajak Sebatang Lisong
menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka
matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak – kanak
tanpa pendidikan
aku bertanya
tetapi pertanyaan – pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis – papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan
delapan juta kanak – kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………..
menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana – sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan
dan di langit
para teknokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
gunung – gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes – protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam
aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair – penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikan
termangu – mangu di kaki dewi kesenian
bunga – bunga bangsa tahun depan
berkunang – kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta – juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
……………………………
kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing
diktat – diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa – desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata
inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan
RENDRA
( itb bandung – 19 agustus 1978 )
Matahari – The Sun
This is about a college student who thinks profoundly about important role of the sun in life in Bahasa Indonesia poetry so you will learn the language vocabulary as it is subtitled.
Sent by LP3I student in Cikarang, Indonesia when joining Indie Movie Festival in July, 2009




